Berita Populer

جمع

Mengenang Zaman Penjajahan: Nasi Cengkaruk, Kuliner Khas Loloan Timur Jembrana

/ist/Mengenang Zaman Penjajahan pada Kuliner Nasi Cengkaruk di Loloan Timur Jembrana.

Loloan Timur, Jembrana, memiliki kuliner unik yang terkesan seperti zaman penjajahan, yaitu nasi cengkaruk.

Nasi cengkaruk terbuat dari nasi sisa yang masih layak dikonsumsi setelah dijemur. Untuk mengolahnya, nasi sisa direndam selama 4 jam, kemudian dikeringkan, dicuci hingga benar-benar bersih, dan dikukus.

Biasanya, nasi cengkaruk disajikan dengan parutan kelapa. Namun, tak sembarangan orang bisa mengolah nasi cengkaruk. Seperti yang dilakukan oleh Salwiyah (63), seorang penduduk di Loloan Timur, Kelurahan Loloan Timur, Kecamatan Jembrana.

Sebagai pelengkap, ia menyajikan nasi cengkaruk dengan tempe, paesan (pepes lemuru), sambal tomat, dan sambal belimbing wuluh. Salwiyah mengaku lebih nikmat menyantap nasi cengkaruk dengan tangan daripada sendok. Terlebih lagi, ia menyajikannya dengan mangkuk air untuk mencuci tangan dan kendi berisi air minum, menciptakan suasana tradisional yang kental.

“Nasi cengkaruk asli kampung Melayu ini awalnya merupakan solusi warga saat kesulitan membeli beras. Nasi cengkaruk awalnya disebut nasi sisa, tapi saat diolah justru menjadi nikmat dan terasa pulen, terutama ketika dicampur dengan parutan kelapa. Tradisi menikmati nasi cengkaruk masih bertahan hingga sekarang,” kata Salwiyah.

Salwiyah menjual satu porsi nasi cengkaruk lengkap dengan harga terjangkau, yaitu Rp. 8.000. Cukup untuk membuat perut kenyang. Warung nasi cengkaruk dibukanya di jalan Gunung Agung Loloan Timur, Jembrana, mulai pukul 06.00 hingga 12.00.

Yang unik, peralatan memasak nasi cengkaruk masih tradisional, seperti penyantokan (cobek), piring, gelas, dan mangkok basuhan. Salwiyah mendapatkan bahan nasi sisa dari tetangganya.