Berita Populer

جمع

Masyarakat Disarankan Untuk Tidak Berkunjung ke Negara dengan Kasus Penyakit Marburg

Ilustrasi bepergian (Pixabay). (BP/Ant)

Pakar epidemologi, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, menyarankan masyarakat untuk tidak mengunjungi negara yang terdapat kasus penyakit Marburg sebagai tindakan pencegahan dari penyakit ini. Penyakit ini memiliki gejala yang mirip dengan malaria.

Menurut Nadia, yang juga menjabat sebagai Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, masyarakat harus menghindari kontak dengan pasien yang berada di daerah terjangkit. Meskipun sampai saat ini Indonesia belum melaporkan kasus penyakit Marburg yang berasal dari Guinea Ekuatorial, pemerintah tetap meminta masyarakat untuk waspada.

Selain menghindari negara terjangkit, Nadia mengingatkan pentingnya mencuci tangan dan tidak makan makanan setengah matang. Ia juga menyarankan agar apabila masyarakat mengalami gejala dari penyakit ini setelah bepergian ke luar negeri, segera pergi ke fasilitas kesehatan.

Penyakit akibat virus Marburg (filovirus) yang masih satu keluarga dengan virus Ebola dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan orang atau hewan yang terinfeksi, atau melalui benda yang terkontaminasi oleh virus Marburg. Pada 13 Maret lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan kasus penyakit Marburg dari Guinea Ekuatorial. Mereka mencatat terdapat sembilan kematian dan 16 kasus suspek yang dilaporkan di Provinsi Kie Ntem.

Beberapa gejala yang dialami pasien antara lain demam, kelelahan, muntah darah, dan diare. Gejala ini mirip dengan penyakit lain seperti malaria, tifus, dan demam berdarah, sehingga sulit untuk mengidentifikasi penyakit Marburg.

Penyakit virus Marburg dapat muncul secara tiba-tiba, dengan gejala berupa demam tinggi, sakit kepala parah, malaise parah, dan nyeri otot pada hari pertama. Pada hari ketiga, seseorang dapat mengalami diare berair yang parah, nyeri perut, kram, mual, dan muntah dengan diare yang dapat bertahan selama seminggu. Pada fase ini, seseorang dapat terlihat memiliki mata cekung. Pada dua hingga tujuh hari setelah awal gejala, ruam yang tidak gatal dapat timbul.

Gejala berat berupa perdarahan dapat terjadi antara hari kelima hingga ketujuh pada kasus yang fatal dan biasanya didahului oleh kehilangan darah yang parah dan syok. Perdarahan dapat terjadi di hidung, gusi, vagina, dan dapat keluar melalui muntah dan feses. Pada fase penyakit yang berat, pasien mengalami demam tinggi dan gangguan pada sistem saraf pusat sehingga dapat mengalami kebingungan dan mudah tersinggung. Orkitis (radang testis) dilaporkan terjadi pada fase akhir penyakit (15 hari).

Saat ini, belum ada vaksin yang tersedia untuk virus Marburg. Pengobatan yang bisa dilakukan hanya bersifat simtomatik dan suportif yakni mengobati komplikasi dan menjaga keseimbangan cairan serta elektrolit. (Kmb/Balipost)