Berita Populer

جمع

Mantan Direktur Utama PT Adhi Persada Realti Didakwa Kasus Korupsi Pembelian Tanah


Jakarta – Mantan Direktur Utama PT Adhi Persada Realti, Ferry Febrianto, dan empat orang lainnya didakwa dalam kasus korupsi terkait pembelian bidang tanah yang dilakukan oleh PT Adhi Persada Realti pada 2012-2014. “Telah dilaksanakan sidang dengan agenda pembacaan surat dakwaan oleh penuntut umum terhadap Terdakwa Ferry Febrianto, Terdakwa Anton Radiumanto Santoso, Terdakwa Nutul Falah Haz, Terdakwa Ir. Shoful Ulum, dan Terdakwa Veronika Sri Hartati,” kata Kapuspenkum Kejagung, Ketut Sumendana, dalam keterangannya pada Selasa (11/4/2023).

Kelima tersangka didakwa terkait Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 jo. Pasal 18 Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Adapun 5 orang yang didakwa terkait kasus korupsi pembelian lahan tersebut adalah:

1. Shoful Ulum (SU) selaku mantan Direktur Operasional dan Direktur Utama PT Adhi Persada Realti

2. Ferry Febrianto (FF) selaku mantan Direktur Utama PT Adhi Persada Realti

3. Veronika Sri Hartati (VSH) selaku Notaris

4. Nurul Falah Haz (NFH) selaku mantan Direktur PT Cahaya Inti Cemerlang

5. Anton Radiumanto Santoso (ARS) selaku Direktur Utama PT Cahaya Inti Cemerlang.

Dalam dakwaan jaksa di PN Tipikor Jakpus pada Senin (10/4/2023), para terdakwa mengajukan eksepsi yang akan digelar pekan depan.

PT Adhi Persada Realti merupakan anak perusahaan BUMN PT Adhi Karya (Persero) Tbk yang bergerak dalam bidang pembangunan properti, perdagangan, dan jasa. Kasus ini bermula saat PT Adhi Persada Realti membeli tanah di Jalan Raya Limo, Cinere, Kelurahan Limo, Kecamatan Limo, Kota Depok dengan harga Rp 60,262,194,850 pada 2012-2014 melalui PT Cahaya Inti Cemerlang. Namun, tanah tersebut bukanlah milik PT Cahaya Inti Cemerlang dan tidak dikuasai oleh PT Cahaya Inti Cemerlang. Dakwaan menyatakan bahwa pembelian tanah tersebut dilakukan tanpa adanya kajian dan melanggar SOP.

Dirdik pada Jampidsus, Kuntadi menuturkan, harga yang telah dibayarkan sedianya untuk pembelian tanah seluas 20 hektar atau 200.000 meter persegi namun pada kenyataannya yang diperoleh hanya 1,2 hektar atau 12,595 meter persegi dan tidak memiliki akses jalan. Selain itu, PT Adhi Persada Realti mengeluarkan dana senilai Rp 26,064,872,316 untuk memasarkan produk pembangunan perumahan di tanah tersebut, sehingga total dana yang dikeluarkan mencapai Rp 86,327,067,166.

Selain itu, proses pembayaran transaksi tersebut ternyata melalui notaris yang tidak berkompeten dan di luar wilayah kerjanya. Uang tersebut justru malah ditransfer ke rekening pribadi para direktur PT Cahaya Inti Cemerlang. “Saudari VSH adalah notaris yang pada saat pengikatan jual beli dilakukan bukan di wilayah hukum yang bersangkutan, dan yang bersangkutan yang mengatur alur transaksi keuangannya,” katanya.

Simak halaman selanjutnya