Berita Populer

جمع

Gerhana Matahari Hibrida 2023: Fenomena Langka yang Sayang Dilewatkan

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa Gerhana Matahari Hibrida pada 20 April 2023 merupakan fenomena alam yang langka dan sayang jika dilewatkan. Momen ini bisa dimanfaatkan oleh para peneliti antariksa dan disiplin ilmu lainnya.

Riset Antariksa

Menurut Kepala Pusat Antariksa BRIN, Emanuel Sungging, Momen Gerhana Matahari Hibrida menjadi momen yang baik untuk dilakukan riset antariksa. Timnya akan melakukan pengamatan di Biak Numfor yang berada tepat di lintasan gerhana matahari. Ada tiga hal yang akan dilakukan, yaitu riset terkait korona, dampak gerhana pada ionosfer, dan perubahan kecerlangan.

Mengukur Korona

Untuk mengukur korona, tim BRIN akan menggunakan indeks flattening Ludendorf agar dapat melihat bentuk dan struktur korona. Nilai indeks yang dihasilkan akan diturunkan untuk mengidentifikasi aktivitas magnetik dan memprediksi siklus matahari.

Mengamati Ionosfer

Dengan menggunakan alat sederhana, tim BRIN akan mengukur dinamika ionosfer. Mengapa hal ini menjadi penting, karena sangat berdampak pada akurasi GPS dan juga terkait komunikasi terutama komunikasi maritim yang menggunakan kanal HF (High Frequency). Tim BRIN akan melihat pada saat terjadinya gerhana ini ada gangguan atau tidak.

Riset Antardisiplin Ilmu

Riset disiplin ilmu lain juga dapat memanfaatkan momen yang langka ini untuk penelitian terkait disiplin ilmu masing-masing. Peneliti dari disiplin ilmu hayati bisa memanfaatkan momen Gerhana Matahari Hibrida, apakah ada pengaruh atau tidak terhadap makhluk hidup baik tumbuhan atau hewan.

Selain itu, dalam bidang ilmu sosial, peneliti di bidang tersebut juga dapat melakukan penelitian etnoastronomis, terkait bagaimana budaya yang timbul di masyarakat terkait adanya Gerhana Matahari Hibrida. Adanya momen ini membawa kesempatan untuk melakukan kolaborasi lintas disiplin.

Gerhana Matahari Hibrida

Gerhana Matahari Hibrida terjadi ketika dalam satu waktu fenomena gerhana ada daerah yang mengalami Gerhana Matahari Total dan ada pula yang mengalami Gerhana Matahari Cincin (tergantung dari lokasi pengamat). Kejadian tersebut disebabkan oleh kelengkungan Bumi.

Indonesia sudah mengalami gerhana matahari beberapa kali yaitu pada tahun 1983 terjadi Gerhana Matahari Total, Gerhana Matahari Cincin tahun 2019, dan Gerhana Matahari Total tahun 2016. Gerhana Matahari Hibrida yang akan terjadi pada 20 April 2023 nanti akan berlangsung selama 3 jam 5 menit mulai dari durasi kontak awal hingga akhir jika diamati dari Biak, dengan durasi fase tertutup total 58 detik. Sementara jika diamati dari Jakarta, durasi dari kontak awal hingga akhir adalah 2 jam 37 menit dengan persentase tertutupnya matahari hanya sebesar 39%.

Jangan lewatkan momen langka ini dan jadilah bagian dari riset dan penelitian!