Berita Populer

جمع

“Dunia Menghadapi Risiko Besar Penggunaan Senjata Nuklir Menyusul Invasi Rusia ke Ukraina”

Ilustrasi – Perang nuklir. (BP/Ant)

JENEWA, – Kepala Kampanye Internasional Penghapusan Senjata Nuklir (ICAN), yang meraih penghargaan Nobel 2017, mengatakan bahwa dunia menghadapi risiko besar penggunaan senjata nuklir setahun setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Direktur Eksekutif Interim ICAN, Daniel Hogsta, memperingatkan bahwa ini adalah risiko besar pertama dalam penggunaan senjata nuklir sejak tahun 1945.

Hogsta mengatakan bahwa Rusia telah mengeluarkan ancaman langsung maupun tersirat untuk menggunakan senjata nuklir pada Ukraina, dan ada kemungkinan salah perhitungan atau Rusia menanggapi ancaman yang dianggap sebagai ancaman bagi Moskow.

Semakin lama Rusia melanjutkan invasi dan operasi militernya, semakin besar kemungkinan senjata nuklir digunakan dalam konflik ini, dan dunia harus menanggapi dengan serius, kata Hogsta.

Hogsta juga mengomentari keputusan Presiden Putin untuk menangguhkan penerapan perjanjian pengendalian senjata, New START, yang merupakan perjanjian terakhir antara Rusia dan Amerika Serikat. Menurut Hogsta, keputusan ini adalah ceroboh dan berbahaya dan sepatutnya dikritik secara luas.

Dalam krisis seperti ini, Hogsta mengingatkan bahwa kesempatan terbuka bagi adanya terobosan dalam langkah pengendalian nuklir, seperti yang terjadi pada Krisis Rudal Kuba pada 1962.

Hogsta merujuk pada perlunya perlucutan senjata nuklir yang komprehensif karena negara bersenjata nuklir dapat menggunakan ancaman senjata nuklir untuk menginvasi negara tetangganya yang tak memiliki senjata nuklir. Perjanjian Pelarangan Senjata Nuklir (TPNW) yang sudah didukung oleh banyak negara, adalah satu-satunya perjanjian yang melarang seluruh aktivitas nuklir, termasuk ancaman penggunaan senjata nuklir, dan hal ini menarik lebih banyak lagi dukungan.

Konferensi tingkat tinggi (KTT) G7 yang akan datang di Hiroshima menyediakan kesempatan yang tepat untuk mulai mendorong penghapusan senjata nuklir dan mengajak para pemimpin negara berkekuatan nuklir untuk berunding, kata Hogsta.

ICAN adalah sebuah koalisi berbasis di Jenewa yang beranggotakan organisasi non-pemerintah dari 100 negara yang menggalakkan kepatuhan dan implementasi perjanjian larangan senjata nuklir PBB.